Kamis, 22 Oktober 2009
oleh: Putri Dwimirnani
Bingung juga memilih jendela. Kalau terlalu kecil, rumah jadi pengap. Tapi, kalau terlalu besar malah silau. Bentuk vertikal seperti ini boleh dicoba nih .
Pada ruang duduk yang terletak di lantai dua ini, jendela tinggi memenuhi dua sisi dinding. Jika semuanya dibuka, terasa angin semilir hangat masuk ke dalam ruangan. Hmm... Nyaman sekali.
Pramudiyarto Hadisoebroto, arsitek sekaligus pemilik rumah, memilih jendela panjang untuk menyesuaikan dengan kondisi lingkungan. Karena Indonesia beriklim tropis, ia pun menerapkan gaya tersebut pada bangunan.
Agar udara dapat mengalir lancar ke dalam rumah, dibuatlah jendela tinggi dan ramping. Selain itu, "Saya tidak suka kalau ada jendela tapi masih menggunakan lampu di siang hari," jelasnya. Maka, rumahnya pun sengaja dibuat terbuka agar cahaya matahari bisa masuk dengan optimal.
Pramudiyarto menambahkan, "Perhitungan saya, pada siang hari sebisa mungkin tidak menggunakan listrik."
Bentuk jendela vertikal seperti itu jelas merupakan solusi yang tepat. Tidak seperti mengganti dinding sepenuhnya dengan kaca, jendela ramping seperti ini masih membatasi cahaya yang masuk. Fungsinya, tentu mencegah silau dan panas masuk ke dalam rumah.
Bukan tanpa perhitungan pula Pramudiyarto memilih jendela ini. Lihat saja di sekeliling rumahnya telah lebih dulu ditanami pepohonan. Jadi, terang tapi tak panas.
Ada satu lagi kelebihannya. Dengan jendela yang ramping, maling tak akan bisa masuk. Nggak perlu repot pasang teralis deh. Toh jendelanya sudah sempit, kan ?
Lokasi: Kediaman Ir. Pramudiyarto Hadisoebroto, Bintaro Jaya Sektor IX