oleh: Anissa Q. Aini
Indonesia bakal punya kesempatan besar buat jadi inspirasi tren furnitur dunia tahun 2010. Desainer produk Leonard Theosabrata menyakini hal ini.
Ditemui di acara d-Award For Modern Design 2009, desainer muda itu mengatakan bahwa tren desain furnitur dunia selalu bergeser. Dulu, gaya-gaya ala Amerika dan Eropa yang cenderung maksimalis, boleh merajai tren dunia. Tapi sekarang, inspirasinya sudah mulai bergeser ke Asia (eastern).
Mau bukti? Booming-nya gaya minimalis ala Jepang adalah salah satu buktinya. Gaya minimalis ini lumayan lama bertahan. Dipadukan dengan berbagai gaya lain, jadilah modern minimalis, minimalis kontemporer, bahkan minimalis etnik.
Nah, setelah minimalis demikian populer, tren mulai bergeser ke arah oriental ala Cina. Tahun 2010 ini, menurut Leonard, terbuka kesempatan besar bagi Indonesia untuk menjadikan kekayaan budaya dan tradisinya sebagai inspirasi bagi tren furnitur dunia. Inspirasi gaya tradisional Indonesia yang dimaksud, bukan dominasi batik atau ukiran. Leonard mengatakan, inspirasi yang dimaksud bukan sekadar dari tampilan, tapi nilai dan karakter. Indonesia punya banyak suku bangsa, otomatis banyak pula karakter dan ciri khas yang bisa dijual.
"Saya pribadi lebih suka desain yang biasa-biasa saja, tapi punya karakter dan ciri khas. Artinya, orang tidak bisa menemukannya kalau bukan di Indonesia. Inilah inspirasi yang sebenarnya," ujar Leonard bersemangat. Karakter dan ciri khas ini bisa hadir dari bahan baku, ornamen-ornamen unik, dan sebagainya. Desainer muda ini meyakini, pemanfaatan nilai-nilai lokal akan menjadikan desain furnitur Indonesia tak kalah dengan desain luar negeri. Jadi, buat yang masih bangga dengan gaya-gaya ala Barat, siap-siap dibilang ketinggalan zaman. Tahun 2010 dan beberapa tahun setelahnya, akan jadi tahunnya Indonesia dan negara-negara Asia, nih.
Berpotensi Besar Tapi, Kok, Masih Tertinggal?
Kita memang boleh berbangga dengan kesempatan besar yang akan kita dapat, seperti yang dikatakan oleh Leonard sebelumnya. Tapi di sisi lain, rupanya kondisi furnitur Indonesia bisa dibilang ironis. Pemilik salah satu brand furnitur di Indonesia, Savana Furnitur, Iwan Tumewa, mengatakan bahwa dibandingkan negara-negara lain di dunia, Indonesia masih jauh tertinggal Fakta ini ia temukan saat mengikuti berbagai pameran furnitur di mancanegara.
Dalam hal apa, sih, ketinggalannya?
Selidik punya selidik, Iwan mengatakan, banyak hal yang jadi penyebab ketertinggalan ini. Salah satunya adalah dukungan pemerintah dan mahalnya bahan baku berkualitas, di negeri ini. Selain itu juga masalah eksploitasi karya desainer Indonesia. Masih jauh panggang dari api.
"Ini bukan berarti desainer-desainer Indonesia tidak berkualitas, cuma kurang diekspos," kata Iwan. Ia menganalogikannya dengan atlit. Untuk menjual atlit hingga namanya terkenal di dunia, tidak cukup dengan melatihnya saja. Tapi perlu publikasi juga. Percuma atlitnya berkualitas kalau tidak pernah disorot, tidak akan ada yang mengenalnya.
Selain masalah publikasi, Iwan juga mengungkapkan soal sulitnya mendapatkan bahan baku yang berkualitas, di Indonesia. Bahkan, menurutnya ada beberapa bahan baku yang harus diimpor dari luar negeri. "Bahan baku yang kurang berkualitas, bahkan sulit didapat, seringkali jadi hambatan buat industri furnitur, seperti saya. Kalau harus impor, akhirnya mau tidak mau, harga furniturnya jadi mahal," keluh Iwan.
Agak sedikit berbeda engan Iwan dan Leonard, Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) DKI Jakarta, Rohadi lebih menyoroti kualitas. Katanya, salah satu kelemahan furnitur-furnitur Indonesia adalah quality control. Kita seringkali kurang memperhatikan ketahanan sebuah furnitur. Bisa jadi di sini, setelah dibuat tampak kuat, tapi setelah beberapa waktu ternyata mudah rusak dan rapuh. "Soal desain, sih, saya yakin desainer Indonesia bisa bersaing. Tapi soal kualitas ini harus tetap jadi perhatian kita," tambah Rohadi.
Hmm, kira-kira Indonesia siap tidak ya memanfaatkan kesempatan yang sudah di depan mata ini?
Foto: iDEA Online/ Anissa Q. Aini (Mingle Bench, desainer: Alvin Tjitrowirjo)