Selasa, 16 Februari 2010
oleh: Rasantika M. Seta
Dua hari lalu, sebagian wilayah langganan banjir di Jakarta kebanjiran lagi. Kali ini bukan karena derasnya curah hujan di wilayah Jakarta, namun karena kiriman air dari daerah Bogor dan sekitarnya. Selain di Jakarta, Bandung selatan juga digenangi air.
Sudah hukum alam, air akan terus mengalir menuju titik yang terendah. Karenanya, banjir biasanya terjadi pada daerah cekungan, atau daerah rendah/terendah pada sebuah kawasan. Di sana air berkumpul, dan jika daerah itu tak lagi sanggup menampungnya, maka banjir pun meluas ke area sekitarnya.
Alam sebetulnya sudah cukup arif bersahabat dengan manusia. Banjir sebetulnya dapat dicegah kalau manusia juga arif terhadap lingkungannya. Banjir yang terjadi sebetulnya merupakan salah satu bentuk reaksi alam terhadap kegiatan manusia yang tak bijak. Banjir dapat terjadi ketika manusia dengan seenaknya menggunduli hutan pada sebuah perbukitan. Akibat tiadanya tanaman keras pada perbukitan itu, air hujan akan mengalir deras ke area rendah dan menyebabkan bencana banjir dan/atau tanah longsor.
Di perkotaan, aliran air hujan yang deras mungkin tak akan menimbulkan masalah jika situ dan saluran drainase berfungsi maksimal. Dengan begitu air yang tercurah dari langit pun bisa langsung terbuang masuk ke situ dan/atau langsung diteruskan ke sungai besar. Untuk membuat semua itu terwujud, sudah semestinya pemerintah memiliki sistem pengelolaan air yang baik. Pemerintah juga mesti menata ulang kawasan, merevitalisasi sungai dan sekitarnya.
Sebagai salah satu kawasan resapan yang juga dapat meredam aliran air, sudah semestinya situ/waduk juga harus direvitalisasi. Di Jakarta dan sekitarnya misalnya, menurut catatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), saat ini ada 184. Sayangnya, jumlah ini merupakan penyusutan dari jumlah situ tahun 2003-2004 yang mencapai 240. Akibatnya, luas total situ di Jabodatabek berkurang drastis dari 2.337,10 hektare untuk total 240 situ, sekarang menjadi hanya 1.462,78 hektare untuk 184 situ. Beberapa situ yang hilang itu rata-rata telah menjadi perumahan, kawasan bisnis, restoran, dan lebih buruk lagi: menjadi area pembuangan sampah.
Di sisi lain, selain jumlahnya menyusut, situ yang masih bertahan pun kondisinya hampir tak terawat. Rata-rata kedalaman situ berkurang, yang sebelumnya 5-7 meter sekarang tinggal 2,5-3 meter. Artinya, daya tampungnya pun semakin berkurang. Dan ini tentu akan berimbas pada kemampuan situ menahan laju aliran air saat musim hujan tiba.
Guna merevitalisasi fungsi situ, pemerintah sebetulnya tak duduk terdiam. Berbagai upaya telah dilakukan, namun berbagai kendala pun menghadang. Alhasil, kebijakan pemerintah pun tak sepenuhnya berhasil. Tak lepas dari usaha pemerintah merevitalisasi situ, seharusnya masyarakat pun ikut berpartisipasi sepenuhnya. Bukan hanya masyarakat yang berada di kawasan sekitar situ yang mesti berperan aktif menjaga keberlangsungan fungsi situ. Masyarakat yang berada di daerah aliran sungai yang mengalirkan air ke/dari situ pun wajib turut serta. Minimal, mereka tidak membuang sampah di sepanjang aliran sungai ke/dari situ. Dengan begitu, air dapat mengalir lancar ke situ dan dari situ tanpa hambatan. Dengan begitu, walau mungkin belum sepenuhnya tuntas, banjir pun dapat diminimalisir. Ya,... kalau sekarang hampir setiap tahun banjir, mungkin esok bisa tiap dua tahun, tiga tahun, hingga tak pernah banjir lagi.
Kalau masih banjir juga, ampun dah!!! Sepertinya kita juga perlu mohon ampun kepada-Nya yang mencipta alam semesta ini.