oleh: Annisa Q. Aini
Walaupun kerap disebut tren forecast , tapi ternyata yang namanya tren itu tidak diramal, lho. Tren warna misalnya, ada lembaga yang memang sudah diakui untuk melakukan riset, untuk kemudian memutuskan kira-kira warna apa yang akan jadi tren setiap tahunnya. Di tingkat global, ada yang namanya Pantone. Lembaga ini diakui dunia memiliki otoritas dalam "meramalkan" tren warna.
Indonesia punya Indonesia Creative Center (ICC), yang bulan Mei lalu berhasil merumuskan tren 2011 untuk Indonesia, untuk produk dan fesyen, yang bertema "Surf-vival ". Memang, sih, tidak langsung berkaitan dengan dunia arsitektur dan interior, tapi yang namanya tren, hampir semua elemen pasti bakal kebawa-bawa .
Nah, untuk merumuskan tren ini, kedua lembaga tadi tidak sembarangan. Mereka tidak sekadar duduk, rapat, brainstorming , kemudian ujug-ujug keluarlah tren tahun 2010 atau 2011. Obrol-obrol dengan desainer interior, Diana Nazir, menurutnya, tren dirumuskan berdasarkan penelitian di berbagai aspek. Mulai dari ekonomi, sosial, psikologi, dan sebagainya.
Misalnya, tren warna 2010, Pantone menyebut turqoise . Mengapa? Penjelasan singkatnya, Diana bercerita, 2009 menuju 2010 dunia sedang dilanda resesi ekonomi. Akibatnya banyak orang yang depresi, tertekan oleh keadaan perekonomian yang morat marit. Secara psikologis, orang-orang dalam kondisi demikian membutuhkan suasana yang tenang, rileks, dan adem . Semua karakter tadi ada pada si turqoise , maka muncullah warna ini sebagai tren dunia.
Terselip dari cerita Diana soal tren warna, disinggung juga soal tren gaya interior. Di Amerika sana, banyak orang memilih mendandani rumah mereka dengan tema pantai. Dimana si turqoise tadi mewakili warna laut. Pilihan tema ini masih berkaitan dengan penelitian tadi. Kondisi masyarakat yang masih "panas" karena resesi ekonomi, membuat mereka semakin membutuhkan liburan. Padahal mereka harus potong budget untuk itu. Sebagai gantinya, mereka membuat rumah mereka bersuasana liburan, salah satu tujuan favorit adalah pantai.
Karena tren ini tidak diramal tapi berdasarkan penelitian, seharusnya setiap negara, setiap daerah, akan punya tren berbeda. Sayangnya, selama Indonesia masih berkiblat ke mancanegara untuk urusan tren, baik arsitektur, interior, produk, maupun fesyen. Mudah-mudahan rumusan ICC untuk 2011 bisa jadi awal untuk Indonesia menentukan trennya sendiri.